Teks Narasi "Sekalung Mutiara"

Awan menggantung di sudut kota. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan satu per satu pertanda sang surya akan terbenam. Suara kapal-kapal yang menggunakan derek untuk memuat dan membongkar muatan ricuh terdengar. Seorang gadis kecil berlarian kesana-kemari. Matanya berkeliaran menjelajah ke seluruh dermaga mencari sosok yang telah dinantinya selama ini.

Itulah Zoey. Matanya tak henti mencari ayahnya yang baru saja pulang dari pergi berlayar. Hampir satu jam Zoey mencari ayahnya tapi tak kunjung ia temukan. Padahal hari ini adalah hari yang penting bagi Zoey, hari ulang tahunnya. Ayahnya menjanjikan Zoey untuk membawa pulang sebuah kalung mutiara buatan tangan. 

Tak berselang lama seorang pria paruh baya datang mendekati Zoey. Bersamaan dengan itu, ibu Zoey berlari-lari kecil menghampiri Zoey karena sudah tertinggal jauh oleh anaknya yang berlari terlebih dahulu. Ketika ibunya sudah sampai, barulah pria paruh baya tersebut angkat bicara. Zoey mengetahui bahwa pria di hadapannya adalah teman ayahnya karena Zoey pernah melihat beliau berbincang beberapa kali dengan ayahnya.

Pria paruh baya itu hanya mengatakan sepatah dua patah kata, dengan senyum tipis di wajahnya beliau menyodorkan sebuah kalung mutiara beserta amplop yang berisikan surat wasiat di dalamnya. Tangis Zoey pecah seketika. Ia menangis dalam dekapan ibunya. Namun satu hal yang ia tahu bahwa ayahnya selalu menepati janji. 

Komentar

Posting Komentar